Rabu, 11 Januari 2012

Neuronatomi (Cause of Learning Dissability)


BAB I
PENDAHULUAN


2.1 TEORI PEMBAHASAN

            Bagian manakah dari otak yang menjadikan siapa kita : cerdas, individu yang berfikir, masing-massing dengan kepribadian kita sendiri. Ilmuan dan dokter yakin bahwa semua bagian dari otak berperan penting pada keunikan individual manusia.Namun, daerah daerah yang menciptakan hubungan dengan membandingkan dengan pesan-pesan syaraf baru dengan nomor yang tersimpan merupakan bagian yang paling penting.
Pesan-pesan yang dalam sekejap memancar melewati jaringan rumit neuron asosiasi di otak menciptakan “kita” dengan sikap kecerdasan perasaan, reaksi, tata cara, dan daya nilai daya kita
Kebanyakan daerah asosiasi penting berada pada korteks pre frontal yang berada di bagian depan masing-masing lobus frontal. Ini merupakan bagian “pikir” otak yang berurusan dengan kemampuan belajar , kecerdasan dan kepribadian.
Korteks prefrontal memungkinkan kita berfikir, membayangkan, menjadi kreatif,merencanakan masa depan,menyelesaikan masalah,mengkhawatirkan orang lain, dan bertindak dengan cara bijaksana dan peduli.







BAB II
PEMBAHASAN

2.1 KESULITAN BELAJAR (LEARNING DISSABILITY) DAN MASALAH EMOSI
Kesulitan belajar adalah kondisi dimana anak dengan kemampuan intelegensi rata-rata atau di atas rata-rata, namun memiliki ketidakmampuan atau kegagalan dalam belajar yang berkaitan dengan hambatan dalam proses persepsi, konseptualisasi, berbahasa, memori, serta pemusatan perhatian, penguasaan diri, dan fungsi integrasi sensori motorik (Clement, dalam Weiner, 2003). Berdasarkan pandangan Clement tersebut maka pengertian kesulitan belajar adalah kondisi yang merupakan sindrom multidimensional yang bermanifestasi sebagai kesulitan belajar spesifik (spesific learning disabilities), hiperaktivitasdan/atau distraktibilitas dan masalah emosional. Kelompok anak dengan Learning Dissability(LD) dicirikan dengan adanya gangguan-gangguan tertentu yang menyertainya. Menurut Cruickshank (1980) gangguan-gangguan tersebut adalah gangguan latar-figure, visual-motor, visual-perceptual, pendengaran, intersensory, berpikir konseptual dan abstrak, bahasa, sosio-emosional, body image, dan konsep diri.
Tidak seperti cacat fisik, kesulitan belajar tidak terlihat dengan jelas dan sering disebut ”hidden handicap”. Terkadang kesulitan ini tidak disadari oleh orangtua dan guru, akibatnya anak yang mengalami kesulitan belajar sering diidentifikasi sebagai anak yangunderachiever, pemalas, atau aneh. Anak-anak ini mungkin mengalami perasaan frustrasi, marah, depresi, cemas, dan merasa tidak diperlukan (Harwell, 2001).

Definisi Kesulitan Belajar
Istilah yang digunakan untuk menyebut Anak Berkesulitan Belajar (ABB) cukup beragam. Keragaman istilah ini disebabkan oleh sudut pandang ahli yang berbeda-beda. Kelompok ahli bidang  medis menyebutnya dengan  istilah brain injured, dan minimal brain dysfunction, kelompok ahli psikolinguistik menggunakan istilah language disorders, dan selanjutnya dalam bidang pendidikan ada yang menyebutnya dengan istilah educationally handicaped. Namun  istilah umum yang sering digunakan oleh para ahli pendidikan adalah learning disabilities   (Donald, 1967:1 ) yang diartikan sebagai "Kesulitan Belajar". Karena sifat kelainannya yang spesifik, kelompok anak yang mengalami kesulitan belajar ini, disebut Specific Learning Disabilities yaitu Kesulitan Belajar Khusus (Painting, 1983: Kirk, 1989). 
Dalam dunia pendidikan digunakan  istilah   educationally handicapped  karena anak-anak ini mengalami kesulitan dalam mengikuti proses pendidikan, sehingga mereka memerlukan layanan pendidikan secara khusus (special education) sesuai dengan bentuk dan derajat kesulitannya (Hallahan dan Kauffman, 1991). Layanan pendidikan khusus yang dimaksud tidak hanya berkaitan dengan kesulitan yang dihadapinya, tetapi juga dalam
strategi atau pendekatan bantuannya.  
Istilah yang digunakan oleh para medis adalah  brain injured, minimal brain dysfunction, dengan alasan bahwa   dari hasil deteksi secara medis anak-anak berkesulitan belajar mengalami penyimpangan dalam perkembangan otaknya  yang diakibatkan oleh adanya masalah pada saat persalinan atau memang sejak dalam kandungan  mengalami penyimpangan. Penyimpangan perkembangan otak biasanya tidak menimbulkan kelainan struktural, akan tetapi penyimpangan tersebut dapat menimbulkan gangguan fungsi pada otak (Dikot, Y., 1992:6). Sementara itu para ahli bahasa menyebutnya dengan istilah  language disorders karena anak-anak berkesulitan belajar mengalami gangguan dalam berbahasa.
Gangguan bahasa yang dimaksud meliputi berbahasa ekspresif yaitu kemampuam mengemukakan ide atau pesan secara lisan, dan berbahasa reseptif yaitu kemampuan menangkap ide atau pesan orang lain yang disampaikan secara lisan. Adapun pengertian tentang anak berkesulitan belajar khusus , sebagaimana dijelaskan oleh Canadian Association for Children and Adults with Learning Disabilities (1981) adalah mereka yang tidak mampu mengikuti pelajaran di sekolah meskipun kecerdasannya termasuk rata-rata, sedikit di atas rata-rata, atau sedikit di bawah rata-rata, dan apabila kecerdasannya lebih rendah dari kondisi tersebut bukan lagi termasuk  learning disabilities. Keadaan ini terjadi sebagai akibat disfungsi minimal otak (DMO) yaitu  karena adanya penyimpangan dalam perkembangan otak yang dapat berwujud dalam berbagai kombinasi gejala gangguan seperti : gangguan persepsi, pembentukan konsep, bahasa, ingatan, kontrol perhatian atau gangguan motorik. Keadaan ini tidak disebabkan oleh gangguan primer pada penglihatan, pendengaran, gangguan  motorik , gangguan emosional, retardasi mental, atau akibat lingkungan (Wright,dkk., 1985).
Public Law (Hallahan dan Kauffman, 1991: 126) menjelaskan tentang  "Specific learning Disabilities" sebagai gangguan pada satu proses psikologis dasar atau yang lebih terlihat didalam penggunaan bahasa lisan dan tulis dengan wujud seperti ketidaksempurnaan mendengar, memikirkan, membicarakan, membaca, menulis, mengucapkan atau melakukan penghitungan matematis. Di dalam istilah kesulitan belajar tercakup kondisi-kondisi halangan persepsi, cedera otak, disfungsi minimal otak, disleksia, dan aphasi perkembangan. Istilah ini tidak mencakup anak yang mempunyai masalah yang pada dasarnya sebagai akibat hambatan visual, pendengaran, tunagrahita, gangguan phisik , gangguan emosi, lingkungan, budaya, dan ekonomi yang kurang menguntungkan.
The National Joint Committee for Learning Disabilities (NJCLD)  mengemukakan bahwa kesulitan belajar adalah istilah umum yang digunakan untuk kelompok gangguan yang heterogen yang berupa kesulitan nyata dalam menggunakan pendengaran, percakapan, membaca, menulis, berfikir, dan kemampuan matematika. Gangguan ini terdapat didalam diri seseorang dan dianggap berkaitan dengan disfungsi sistem syaraf pusat. Sekalipun kesulitan belajar mungkin berdampingan dengan kondisi-kondisi hambatan lain (misalnya perbedaan budaya, kekurangan pengajaran, faktor penyebab psikogen), kesulitan belajar bukan akibat langsung dari kondisi atau pengaruh tersebut.
    Memperhatikan ketiga pengertian tentang anak berkesulitan belajar khusus tersebut, tergambar bahwa sumber penyebabnya yaitu pada "disfungsi sistem syaraf pusat". Kondisi "disfungsi" menunjukkan adanya gangguan fungsi dari sistem syaraf sehingga tidak berperan sebagaimana mestinya. Gangguan yang terjadi pada aspek organis, dan pada proses psikologis dasar berupa gangguan berbahasa, artikulasi, membaca, menulis ekspresif dan berhitung tidaklah bersifat permanen, sehingga memungkinkan kembali berfungsi optimal manakala memperoleh layanan yang sesuai. 
Berdasarkan  gambaran di atas, kita dapat membuat  batasan yang lebih ringkas sebagai berikut. “ Anak berkesulitan belajar adalah anak yang mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademiknya, yang disebabkan oleh adanya disfungsi minimal otak, atau dalam psikologis dasar, sehingga prestasi belajarnya tidak sesuai dengan potensi yang sebenarnya, dan untuk mengembangkan potensinya secara optimal mereka memerlukan pelayanan  pendidikan secara khusus”.
Bagaimana pandapat Anda tentang batasan di atas?

Klasifikasi Kesulitan Belajar
Kesulitan belajar  merupakan   kelompok kesulitan yang  heterogen, sehingga sulit
untuk diklasifikasikan secara spesifik.  Namun demikian, pengklasifikasian itu  diperlukan  dalam menentukan strategi pembelajaran yang tepat.  Kirk dan Gallagher (1989 : 187) menjelaskan  bahwa kesulitan belajar  dibedakan dalam kategori besar, yaitu : (1) kesulitan  belajar yang berhubungan  dengan perkembangan ( developmental learning disabilities) dan (2) kesulitan belajar akademik (academic learning disabilities). Kesulitan belajar yang berhubungan dengan perkembangan, mencakup gangguan perhatian,ingatan ,motorik dan persepsi, bahasa, dan berpikir; sedangkan kesulitan belajar akademik  mencakup  kesulitan membaca, menulis, dan berhitung atau matematika. Kesulitan  belajar   dalam perkembangan dapat mempengaruhi proses untuk menerima, menginterpretasikan, dan merespon stimulus dari lingkungannya.  Dengan demikian  masalah sering terjadi  dalam  proses penerimaan informasi,  tetapitidak selalu dihubungkan dengan masalah prestasi akademik. Sebagai contoh,  ada beberapa anak yang mengalami kekurangan   perceptual-motor tidak mampu membaca, tetapi anak lainnya dengan  kekurangan yang sama mampu membaca.
Dalam beberapa hal  terdapat hubungan antara kesulitan  dalam perkembangan  dan kesulitan belajar akademik, yang menggambarkan kekurangan  dalam keterampilan prasyarat( prerequisite).  Sebagai contoh,  sebelum anak dapat belajar  menulis, ia harus memiliki keterampilan atau kemampuan tertentu  ( sebagai  prasyarat) seperti  koordinasi mata-tangan, mengingat, dan kemampuan mengurutkan; sedangkan  untuk belajar  membaca, anak  membutuhkan kemampuan  membedakan stimulus visual dan auditori, mengingat, asosiasi , dan mengkonsentrasikan  perhatiannya. Kesulitan belajar akademik merupakan suatu kondisi  yang secara signifikan menghambat proses belajar  membaca, menulis, dan operasi berhitung.  Kesulitan tersebut tampak ketika  anak sudah masuk sekolah dan prestasinya di bawah potensi  akademiknya.
Rendahnya prestasi tersebut bukan disebabkan oleh keterbatasan mental (tunagrahita),gangguan emosi yang serius, atau gangguan sensori,atau keterasingan dari lingkungan.

B. Faktor penyebab Kesulitan Belajar
Ada beberapa penyebab kesulitan belajar yang terdapat pada literatur dan hasil riset (Harwell, 2001), yaitu :
1. Faktor keturunan/bawaan
2. Gangguan semasa kehamilan, saat melahirkan atau prematur
3. Kondisi janin yang tidak menerima cukup oksigen atau nutrisi dan atau ibu yang merokok, menggunakan obat-obatan (drugs), atau meminum alkohol selama masa kehamilan.
4. Trauma pasca kelahiran, seperti demam yang sangat tinggi, trauma kepala, atau pernah tenggelam.
5. infeksi telinga yang berulang pada masa bayi dan balita. Anak dengan kesulitan belajar biasanya mempunyai sistem imun yang lemah.
6. Awal masa kanak-kanak yang sering berhubungan dengan aluminium, arsenik, merkuri/raksa, dan neurotoksin lainnya.
Riset menunjukkan bahwa apa yang terjadi selama tahun-tahun awal kelahiran sampai umur 4 tahun adalah masa-masa kritis yang penting terhadap pembelajaran ke depannya. Stimulasi pada masa bayi dan kondisi budaya juga mempengaruhi belajar anak.  Pada masa awal kelahiran samapi usia 3 tahun misalnya, anak mempelajari bahasa dengan cara mendengar lagu, berbicara kepadanya, atau membacakannya cerita. Pada beberpa kondisi, interaksi ini kurang dilakuan, yang bisa saja berkontribusi terhadap kurangnya kemampuan fonologi anak yang dapat membuat anak sulit membaca (Harwell, 2001)
Sementara Kirk & Ghallager (1986) menyebutkan faktor penyebab kesulitan belajar sebagai berikut:
1. Faktor Disfungsi Otak
Penelitian mengenai disfungsi otak dimulai oleh Alfred Strauss di Amerika Serikat pada akhir tahun 1930-an, yang menjelaskan hubungan kerusakan otak dengan bahasa, hiperaktivitas dan kerusakan perceptual. Penelitian berlanjut ke area neuropsychology yang menekankan adanya perbedaan pada hemisfer otak. Menurut Wittrock dan Gordon, hemisf er kiri otak berhubungan dengan kemampuan sequential linguistic atau kemampuan verbal; hemisfer kanan otak berhubungan dengan tugas-tugas yang berhubungan dengan auditori termasuk melodi, suara yang tidak berarti, tugas visual-spasial dan aktivitas non verbal. Temuan Harness, Epstein, dan Gordon mendukung penemuan sebelumnya bahwa anak-anak dengan kesulitan belajar (learning difficulty) menampilkan kinerja yang lebih baik daripada kelompoknya ketika kegiatan yang mereka lakukan berhubungan dengan otak kanan, dan buruk ketika melakukan kegiatan yang berhubungan dengan otak kiri. Gaddes mengatakan bahwa 15% dari anak yang termasuk underachiever, memiliki disfungsi system syaraf pusat (dalam Kirk & Ghallager, 1986)
Hemisfer Kiri dan Kanan

Hemisfer kiri menerima dan memproses inpuls saraf dari indra di sisi kanan tubuh lalu ia mengirimkan perintah kepada otot dann organ organ lain di sisi kanan tubuh hemisfer serebral kanan mengendalikan sisi kiri tubuh dengan cara serupa jika kitamenggerakkan lengan kiri kita misalnya perintah untuk gerakan itu datang dari sisis kanan otak kita. Terjadi demikian karena serat-serat saraf menyilang dari satu sisi ke sisi lain pada puncak korda spinal yang berada di sisi kiri tubuh ke bagian kanan otak dan sebaliknya.
Ada perbedaan-perbedaan antara 2 hemisfer serebral. Hemisfer kiri bertanggung jawab untuk keterampilan matematis dan kata. Sedangkan hemisfer kanan bertanggung jawab untuk keterampilan musik dan artistik. Pada 90% orang hemisfer serebral kiri bertanggung jawab untuk bahasa, lisan, dan tulisan dan untuk kendali halus pada tangan. Inilah sebabnya sebangian besar orang menggunankan tangan kanan. Dan 10% gerakan halus dikendalikan oleh hemisfer sebelak kanan, dan mereka adalah orang yang beraktifitas dengan sisi kiri atau disebut kidal.

2. Faktor Genetis 
     Munculnya anak-anak berkesulitan belajar khusus, dapat disebabkan oleh faktor
genetis atau keturunan sebagaimana dikemukakan oleh Finucci dan Child, (1983) serta  
Owen, Adams, Forrest, Stoltz dan Fisher (1971). Sementara itu,  dari hasil penelitian Olson,
Wise, Conners, Rack dan Fulker (1989), ditemukan bahwa pada anak-anak yang kembar
identik (kembar siam) banyak yang mengalami kesulitan membaca.
Otak dan Belajar
Belajar adalah kegiatan memperoleh keterampilan dan pengalaman baru. Belajar bisa melalui pengajaran atau melalu pengalaman. Kemampuan untuk belajar bergantung pada memori. Keterampilan fisik seperti menulis atau bermain sepak bola dipelajari dengan cara mencoba. Kita mencoba banyak hal menilai seberapa baik kita melakukannya dan menyimpan pengalaman kita di dalam memori. Jenis pelajar ini mungkin sulit, tapi begitu keterampilan dikuasai hal itu menjadi luar biasa. Fakta, angka dan bahsa dipelajari dengan memindahkan informasi dari yang sudah dilihat dan didengar ke dalam memori. Informasi semacam itu mungkin hilang jika tidak sering diulang, tetapi mempelajari sesuatu yang pernah kita pelajari itu memang menjadi lebih mudah. Ketika dilahirkan kita tidak perlu belajar bagaimana belajar. Kerangka belajar dasar sudah ada di dalam orak sejak lahir. Belajar tampaknya merupakan pembentukan hubungan-hubungan baru antara milyaran neuron asosiasi di dalam otak. Ketika inpuls saraf melalui jalur yang dibentuk oleh hubungan tertentu kita bisa menginggat kembali apa yang sudah kita pelajari. Semakin banyak kita mengulangi apa yang sudah kita pelajari memalui pengajaran semakin rumit menghubungkan hubungan yang terbentuk didalam otak.



Memori
Memori adalah kemampuan otak untuk menyimpan dan menemukan kembali informasi .
Ada tiga jenis memori yang utama.
1.      Memori jangka panjang
a.       Secara selektif menyimpan informasi. Beberapa bersifat sepele,sedangkan beberapa penting yang diingat dalam jangka waktu panjang bahkan mungkin seumur hidup.
2.      Memori jangka pendek
a.       Memori ini bisa hanya berlangsung dalam beberapa detik sampai beberapa jam. Sebagian besar informasi yang disimpan dalam memori jangka pendek hilang,tapi beberapa diantaranya jika digunakan kembali atau dilatih dengan memori lama mungkin dipindahkan ke memori jangka panjang.
3.      Memori Sensoris
a.       Informasi yang disimpan dalam memori sensoris sangat berjangka pendek.


3. Faktor Lingkungan  Anak berkesulitan belajar yang disebabkan oleh faktor lingkungan sangat sulit untuk
didokumentasikan. Meskipun demikian sering dijumpai  adanya masalah dalam belajar yang disebabkan oleh faktor lingkungan seperti guru-guru yang tidak mempersiapkan program pengajarannya dengan baik atau kondisi keluarga yang tidak menunjang. Dengandemikian,
lingkungan yang menyebabkan timbulnya kesulitan belajar pada anak, bukanlah bersifat primer (utama), tetapi lebih banyak bersifat sekunder.
Dari hasil penelitian para ahli diagnostik, ditemukan empat faktor yang dapat
memperberat gangguan dalam belajar. Keempat faktor  ini sering ditemukan pada anak yang mengalami kesulitan dalam belajar (Kirk/Gallagher,1989:197). Adapun keempat faktor tersebut adalah sebagai berikut.
1. Kondisi fisik, yang meliputi gangguan visual, gangguan pendengaran, gangguan keseimbangan dan  orientasi  ruang, body image yang rendah, hiperaktif, serta kurang gizi.. 
2.  Faktor lingkungan
     Lingkungan keluarga, masyarakat dan sekolah yang kurang menguntungkan bagi anak, akan menghambat perkembangan sosial, psikologis dan pencapaian prestasi akademis.
Pengalaman yang mengoncangkan jiwa, perasaan tertekan dalam keluarga, dan kesalahan dalam mengajar juga dapat menghambat kemajuan  belajar, akan tetapi anak yang
mengalami hambatan tersebut tidak  disebut anak yang berkesulitan belajar, kecuali faktor lingkungan yang tidak menguntungkan ini mengakibatkan adanya gangguan konsentrasi, memori dan proses berfikir. 
 3. Faktor Motivasi dan Afeksi
Kedua faktor ini dapat memperberat anak yang mengalami berkesulitan belajar. Anak yang selalu gagal pada satu mata pelajaran atau beberapa mata pelajaran  cenderung menjadi tidak percaya diri, mengabaikan tugas, dan  rendah diri. Sikap ini  akan
mengurangi motivasi belajar dan muncul perasaan-perasaan negatif  terhadap hal-hal yang berhubungan dengan sekolah. Kegagalan ini dapat membentuk  pribadi anak
menjadi seorang pelajar yang pasif (tak berdaya). 
  4. Kondisi Psikologis
Kondisi psikologis  (yang berhubungan dengan perkembangan  anak berkesulitan
belajar) ini meliputi gangguan perhatian, persepsi visual, persepsi pendengaran, persepsi motorik, ketidakmampuan berfikir, dan lambat dalam kemampuan berbahasa.         Perbedaan antara faktor penyebab ( faktor primer) dan faktor yang memperberat (faktor sekunder) merupakan hal yang mendasar dalam melakukan remidi. Dalam pelaksanaannya harus dianalisis secara cermat mana yang merupakan  faktor primer dan mana yang merupakan faktor  sekunder



BAB III
PENUTUP


3.1 Kesimpulan

Berdasarkan  gambaran di atas, kita dapat membuat  batasan yang lebih ringkas
sebagai berikut. 
“ Anak berkesulitan belajar adalah anak yang mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademiknya, yang disebabkan oleh adanya disfungsi minimal otak, atau dalam psikologis dasar, sehingga prestasi belajarnya tidak sesuai dengan potensi yang sebenarnya, dan untuk mengembangkan potensinya secara optimal mereka memerlukan pelayanan  pendidikan secara khusus”. Faktor Utama kesulitan belajar bisa dikatakan Disfungsi otak. Selain itu juga ada faktor lain seperti Faktor Genetis  .

























3.2 Daftar Pustaka

Bush, Jo Wilma & Waugh, Kenneth (1976). Diagnosing  Learning Disabilities.              
Second Edition,Ohio : Columbus.
Melihat Dengan Mikroskop OTAK Pusat Syaraf Tubuh Kita
Peberbit              : PT Widyadara
Pengarang          : Richard Walker

Tidak ada komentar:

Posting Komentar